

Ani-ani menganggur karena berbagai hal. Yang paling penting adalah semakin modern-nya varietas padi. Padi varietas baru dengan hasil tinggi, dibuat berdaun bendera tegak, ini pasti menyulitkan penggunaan ani-ani. Terlalu banyak 'sampah' yang ikut terpotong ani-ani.
Dengan tidak digunakannya lagi ani-ani untuk memanen padi, maka proses pemanenan padi menjadi lebih efisien, memang. Tetapi kemampuan memilih malai padi yang bernas menjadi hilang. Tradisi 'wiwit' untuk memilih malai-malai unggul sebagai sumber benih penanaman berikutnya, ikut pula hilang. Ritual geospiritual sebagai ungkapan rasa syukur atas keberhasilan panen padi lenyap sudah. Diganti dengan ceramah-ceamah....:-)

Sistem penyediaan benih lokal yang turun temurun dan selalu disertai seleksi malai-malai unggul tidak lagi berjalan. Penyediaan benih padi diambil alih oleh industri perbenihan. Bahkan perusahaan multi nasional pun ikutan menjadi produsen benih padi. Benih padi harus bersertifikat... dan operasionalnya mendesak keragaman hayati tanaman padi Nusantara. Padahal Indonesia adalah negara sumber keragaman hayati nomor dua di dunia, setelah Brasilia. Indonesia pula diduga merupakan negeri asal-usul peradaban padi - sawah yang tak terbantahkan.
Tandanya, betapa banyak perbendaharaan kata tentang padi, tentang sawah, tentang musim tanam dan tentang peralatan budidaya padi.
Lalu bagaimana kita mau mencapai KEDAULATAN PANGAN, jika sekarang budidaya tanaman telah benar-benar dipisahkan dari spiritualitas peradaban padi-sawah dan pertanian secara keseluruhan. Pertanian TROPIKA yang tak kenal istirahat sepanjang tahun.... hijau-kuning berirama secara bergantian yang terus-menerus....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar